Kota Batu-Malang merupakan wilayah yang terkenal dengan perkembangan pariwisata alami maupun buatan. Potensi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal untuk dikunjungi. Ditambah dengan keindahan pemandangan dan panorama alam pegunungan Kota Batu yang memiliki karakteristik topografi dengan kontur jalan yang berkelok-kelok dan naik turun. Tingginya minat wisatawan sudah seharusnya diimbangi dengan ketersedian infrastruktur jalan yang menjadi akses menuju tempat-tempat pariwisata di Kota Batu-Malang. Diantaranya adalah Jalur Lintas Utara (JLU). Jalan ini merupakan proyek yang ditangani Dinas Pengairan dan Bina Marga Pemerintah Kota Batu sejak pelaksanaannya pada tahun 2009 lalu. Dengan pekerjaan proyek berupa pelebaran jalan dari 4 (empat) meter menjadi 7 (tujuh) meter dan panjang jalan yang dilebarkan mencapai 550 meter dari arah Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang yang menjadi gerbang masuk Kota Batu. Dimana tujuan dari pembangunan jalan ini sebagai upaya antisipasi kemacetan yang terjadi di kawasan pariwisata Kota Batu saat liburan. Jalur Lintas Utara yang menghubungkan kota Surabaya dan Batu ini baru diresmikan pada tanggal 31 Desember 2010 lalu oleh Wali Kota Batu, Eddy Rumpoko.
Kondisi jalan yang baik dari segi fisik maupun pelayanan sangat diidamkan oleh pengguna jalan maupun wisatawan terkait efektifitas maupun aktifitas transportasi lainnya. Namun melihat kondisi jalur lintas utara saat ini, bagaimana eksistensi jalur lintas utara itu untuk beberapa waktu ke depan? Baru 2 (dua) pekan sudah jalur lintas utara dioperasikan, pemandangan kontradiktif dicerminkan oleh rusaknya kondisi fisik Jalur Lintas Utara ini. Jalan sudah mulai bergelombang dan berlubang. Sedangkan anggaran yang dikucurkan untuk proyek ini mencapai Rp 900 juta dari APBD 2009.
Dalam proyek ini seharusnya tidak hanya difokuskan pada proses pengoperasian namun perlu adanya sistem manajemen secara keseluruhan dan periodik dari proses pengoperasian sampai pemeliharaannya. Operasional dan pemeliharaan harus dikoordinasikan, pemeliharaan hanya merupakan pendukung dari operasional akan tetapi jika pemeliharaan tidak baik maka pengoperasian akan gagal atau kurang berhasil dikarenakan kedua proses ini tidak berdiri sendiri dan saling terkait. Proses ini dikenal dengan istilah O&M (Operation and Maintenance). Manajemen pemeliharaan inilah yang kurang dimatangkan dari proyek Jalur Lintas Utara ini.
Manajemen pemeliharaan mempunyai kedudukan penting dalam proyek jalur lintas utara tersebut. Berdasarkan sistem, manajemen pemeliharaan menerima anggaran yang sama besar dengan biaya operasi. Dimana dalam tahapannya meliputi repair, replacement and rehabilitation (3R). Adapun ketiga proses tersebut sebagai berikut :
Repair
Merupakan tahapan awal dari manajemen pemeliharaan. Dalam proses ini ditinjau kembali tingkat keberhasilan proyek yang telah dilaksanakan selama masa proyek yaitu inventarisasi dan penilaian kondisi elemen dasar.
Replacement
Merupakan tahapan penggantian ketika ada suatu evaluasi, dimana perubahan dapat dilakukan dan kembali ke sistem awal (pengecekan berkelanjutan) proyek.
Rehabilitation
Merupakan tahapan perumusan upaya keberlanjutan proyek.
Berdasarkan 3R tersebut, perlu adanya perumusan strategi pemilihan pemeliharaan yang efektif pada jalur lintas utara kota Batu meliputi :
· 1. Perbaikan jalur lintas utara yang kondisinya mulai rusak;
· 2. Perbaikan komponen-komponen dengan kerusakan yang berisiko tinggi;
3. Penggunaan pemeliharaan pencegahan menurunnya kualitas jalan pada jalur lintas utara;
· 4. Akomodasi biaya pemeliharaan kondisi fisik maupun pelayanan jalur lintas utara;
· 5. Optimalisasi elemen pengorganisasian; dan
6. Pengawasan dan evaluasi sistem pemeliharaan.
Dengan adanya sinkronisasi antara sistem operasional dan sistem pemeliharaan, diharapkan keberadaan jalur lintas utara ini dalam keadaan baik sebagaimana fungsi dan tingkat pelayanannya. Sehingga sektor pariwisata di Kota Batu-Malang dapat semakin berkembang.
menurut artikel anda, apakah strategi pemeliharaan yang Anda berikan dalam manajemen Jalur Lintas Utara tersebut efektif?? terimakasih,,
BalasHapusterimakasih atas pertanyaannya..
BalasHapusMenurut saya,beberapa strategi tersebut cukup efektif untuk diterapkan. Apalagi mengingat kondisi jalan tersebut saat ini yang mulai menurut pasca operasionalnya. selain itu juga didukung oleh fungsi jalannya sebagai akses alternatif menuju lokasi-lokasi pariwisata di kota batu. beberapa strategi itu untuk antosipasi jangka pendek maupun jangka panjang keberlanjutan fungsi jalan pada Jalur Lintas Utara.